<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2378080211561637179</id><updated>2011-12-19T05:48:31.022-08:00</updated><category term='luka bakar'/><category term='kuliah'/><category term='oxyuriasis'/><category term='keperawatan'/><category term='paradigma'/><category term='kesehatan'/><category term='patologi'/><category term='infeksi'/><category term='oxyuris vermicularis'/><category term='KMB'/><category term='kanker'/><category term='Keperawatan Jiwa'/><category term='aksi'/><category term='kremi'/><title type='text'>Jadi Perawat Kudu Pinter</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pemi-ludi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2378080211561637179/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pemi-ludi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>pemikir_ulung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157734879805724200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2378080211561637179.post-3915231265176745791</id><published>2008-12-02T21:56:00.000-08:00</published><updated>2008-12-02T21:57:37.653-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KMB'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='luka bakar'/><title type='text'>Manajemen Medis Luka Bakar Fase Akut</title><content type='html'>Pencegahan infeksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infection control adalah komponen utama dalam manajemen luka bakar. Infection control dibutuhkan untuk manajemen luka bakar  untuk mengontrol transmisi mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi atau kolonisasi. Infection control itu meliputi penggunaan sarung tangan, penutup kepala, masker, penutup sepatu, dan apron plastik. Staf dan pengunjung tidak diperbolehkan untuk kontak dengan klien jika memiliki infeksi kulit, saluran gastrointestinal atau pernapasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memberikan support metabolik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempertahankan nutrisi yang adekuat selama fase akut dalamluka bakar adalah penting dalam membantu penyembuhan luka dan pengontrolan infeksi. BMR bisa meningkat 40-100% lebih tinggi dibandingkan normal, tergantung luasnya luka. Pemberian nutrisi yang agresiv dibutuhkan untuk menangani peningkatan kebutuhan energi untuk membantu penyembuhan dan mencegah efek katabolisme yang tidak diinginkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminimalisir nyeri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyeri adalah masalah yang signifikan selama klien dirawat di rumah sakit. Selama fase akut, dilakukan percobaan untuk menemukan kombinasi medikasi dan intervensi yang tepat untuk meminimalisir ketidaknyamanan dan nyeri yang berhubungan dengan luka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawatan luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembersihan luka. Hidroterapi tetap menjadi pilihan utama dalam penangan luka bakar untuk membersihkan lukanya. Caranya adalah dengan pencelupan, penyiraman atau penyemprotan. Sesi 30 menit atau kurang hidroterapi optimal untuk klien dengan luka bakar akut. Waktu yang lebih lama dapat meningkatkan kehilangan sodium melalui luka bakar dan dapat menyebabkan kehilangan panas, nyeri dan stress. Selama hydroterapi, luka dicuci dengan salah satu jenis larutan. Perawatan dilakukan untuk meminimalisisr perdarahan dan mempertahankan temperatur tubuh selama prosedur. Klien yang tidak dapat diikutkan hydroterapi adalah mereka yang hemodinamiknya tidak stabil dan mereka yang menjalankan cangkok kulit. Jika hydroterapi tidak digunakan, luka dibersihkan ketika klien di atas tempat tidur dan sebelum pemberian antimicrobial agent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Debridement. Debridement luka bakar adalah pengangkatan eschar. Debridemen luka bakar dilakukan melaluii cara mekanik, enxzimatik, dan bedah. Mekanikal debridemen dapat dilakukan dengan penggunaan gunting dan forcep dengan hati-hati untuk mengangkat dan menghilangkan eschar yang sudah mudah terlepas. Penggantian balutan basah-kering adalah cara efektif debridemen yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enzimatik debridemen adalah dengan pemberian protealitic dan fibrinolitik toikal pada luka bakar yang dapat memudahkan pelepasan eschar. Enzimatik debridemen tidak digunakan secara luas karena memiliki beberapa efek samping yang serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surgical debridemen adalah tindakan eksisi eschr dan penutupan luka. Awal eksisi surgical dimulai selama minggu pertama setelah cedera, segera sesudah klien hamiknya stabil. Keuntungan dari eksisi segera adalah mobilisasi lebih cepat dan mengurangi lamanya waktu hospitalisasi. Kerugiannya adalah risiko mengeksisi jaringan viable yng dapat sembuh dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pemberian antimikrobial topikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal penanganan luka deep partial-thickness atau full thickness adalah dengan anti mikrobial. Obat ini diberikan 1-2 kali setelah pembersihan, debridemen, dan inspeksi luka. Perawat mengkaji untuk pelepasan eschar, adanya granulasi atau reepitelisasi jaringan, dan manifestasi infeksi. Luka bakar diobati dengan teknik balutan terutup atau terbuka. Untuk metode terbuka, antimikrobial diolesi dengan tangan yang bersarung tangan dan luka dibiarkan terbuka tanpa dibalut. Keuntungannya adalah memudahkan untuk melihat luka, lebih bebas untuk bergerak, dan lebih mudah dalm melakukan perawatan luka. Kerugiannya diantaranya adalah peningkatan risiko hipotermia karena terekspos. Pada metode tertutup, balutan diberikan  antimikrobial kemudian digunakan untuk menutup luka. Keuntungannya adalah menurunkan evaporasi cairan dan kehilangan panas dari permukaan luka. Selain itu, balutan dapat membantu dalam debridemen. Kerugiannya adalah mobilitas terbatas dan berpotensi untuk penurunan keefektifan latihan ROM. Pengkajian luka juga jadi terbatas hanya padasaat penggantian balutan dilakukan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaksimalakan Fungsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempertahankan fungsi yang optimal klien dengan luka bakar adalah tantangan bagi seluruh anggota tim. Program individual seperti splinting, latihan, ambulasi, melakukan ADL, terapi penekanan sebaiknya dilakukan pada fase akut untuk memaksimalkan fungsi pada penyembuhan dan kosmetik outcome. Latihan ROM aktif dilakukan pada awal fase akut untuk meningkatkan resolusi dari edema dan mempertahankan kekuatan dan fungsi ssendi. Selain itu, ADL efektif untuk mempertahankan fungsi dan ROM. Ambulasi juga mempertahankan kekuatan dan ROM pada ekstremitas bawah dan sebaiknya dimulai segera setlah klien stabil secara fisiologis. ROM pasif dan peregangan harus menjadi bagian dari pengobatan harian jika klien tidak dapat melakukan latihan ROM aktif. Splint digunakan untuk mempertahankan posisi sendi yang tepat dan mencegah atau memperbaiki kontraktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memberikan suport psikologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periode terpanjang penyesuaian diri terjadi selama fase akut. Penderita luka bakar dewasa dapat menujukkan respon emosional dan psikologi yang bervariasi. Biarkan klien mengekspresikan kekhawatiran dan memvalidasi bahwa mereka ”normal” penting dalam  pemberian dukungan. Jadi pendengan yang aktif dan biarkan klien membicarakan tentang kecelkaannya. Menceritakan kembali secaradetail dan berulang-ulang tentang kejadian sangat berguna untuk menurunkan kepekaan klien terhadap ketakutan dan mimpi buruk. Melibatkan klien dalam perawatan diri mereka sendiri membantu mereka untukmerasa adanya pengontrolan yang berada di bawah tanggung jawabnya. Intervensi seperti ini telah terbukti efektif dalam mensuport kebutuhan psikologi klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Black and Hawks. Medical Surgical Nursing Clinical Management for Positive Outcomes. 7th edition. Missouri:Elsevier Inc&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2378080211561637179-3915231265176745791?l=pemi-ludi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pemi-ludi.blogspot.com/feeds/3915231265176745791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2378080211561637179&amp;postID=3915231265176745791' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2378080211561637179/posts/default/3915231265176745791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2378080211561637179/posts/default/3915231265176745791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pemi-ludi.blogspot.com/2008/12/manajemen-medis-luka-bakar-fase-akut.html' title='Manajemen Medis Luka Bakar Fase Akut'/><author><name>pemikir_ulung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157734879805724200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2378080211561637179.post-3366558511879099615</id><published>2008-06-15T23:48:00.000-07:00</published><updated>2008-06-16T00:04:52.966-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kremi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='patologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='oxyuris vermicularis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='oxyuriasis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='infeksi'/><title type='text'>Cacingan</title><content type='html'>Cacingan, penyakit yang cukup akrab di kalangan anak-anak Indonesia. Mulai dari yang gede-gede seperti cacing perut, sampai yang imut seperti cacing kremi. Tapi apa semua orang mau ngaku cacingan? Malu kali, soalnya penyakit ini biasanya diderita oleh orang “susah” dan gaya hidup yang kurang sehat (bersih). Dan apa semua orang paham dan memiliki pengetahuan yang benar tentang penyakit ini? Nanti dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung parasit di tubuh jenis cacing cukup banyak macamnya, maka saya akan bahas salah satu saja, yang kepopulerannya cukup tinggi di masyarakat Indonesia. enterobius vermicularis (oxyuris vermicularis) atau cacing kremi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau orang kebanyakan menggunakan istilah cacingan atau kremi-an jika terinfeksi cacing ini, tapi istilah medisnya adalah enterobiasis atau oxyuriasis alias terinfeksi enterobius atau oxyuris. Penyakit ini hanya menyerang manusia, jadi bersyukurlah anda yang kremian karena hal itu memberikan sebuah fakta bahwa anda adalah manusia beneran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ta’aruf Dengan Oxyuris&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cacing betinanya berukuran 8-13 mm sedangkan jantan 2-5 mm. Cacing dewasa hidup di sekum, usus besar dan di usus halus yang berdekatan dengan sekum. Mereka memakan isi usus hospesnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Persetubuhan Mematikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkawinan cacing jantan dan betina kemungkinan terjadi di sekum. Cacing jantan mati setelah kawin dan cacing betina mati setelah bertelur. Cacing betina yang mengandung 11.000-15.000 butir telur akan bermigrasi ke daerah sekitar anal untuk bertelur. Telur akan matang dalam waktu sekitar 6 jam setelah dikeluarkan, pada suhu tubuh. Dalam keadaan lembab telur dapat hidup sampai 13 hari.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Infeksi dan Penularan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infeksi cacing kremi dapat terjadi karena dua hal, menelan (secara tidak sengaja tentu saja) telur matang atau larva dari telur yang menetas dari daerah sekitar anal pindah kembali ke usus besar. Telur matang yang tertelan akan menetas di usus 12 jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran cacing kremi lebih luas dibandingkan cacing yang lain. Penularan dapat terjadi pada suatu keluarga atau kelompok-kelompok yang hidup dalam satu lingkungan misalnya asrama, panti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di berbagai rumah tangga yang beberapa anggota keluarganya mengandung cacing kremi, telur cacing dapat ditemukan di lantai, meja, kursi, buffet, tempat duduk kakus, bak mandi, sprei, dan pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penularan dapat dipengaruhi oleh penularan dari tangan ke mulut sesudah menggaruk daerah sekitar anal (autoinfeksi) atau tangan dapat menyebarkan telur kepada orang lain maupun kepada diri sendiri karena memegang benda-benda maupun pakaian yang terkontaminasi. Telur cacing dapat terisolasi dari debu sehingga debu merupakan sumber infeksi karena mudah diterbangkan oleh angina sehingga mudah tertelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kemungkinan penularan pada anggota keluarga cukup tinggi, maka seluruh anggota sebaiknya diberi pengobatan bila ditemukan salah seorang anggota keluarganya mengandung cacing kremi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Gejala Klinis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kremi-an relative tidak berbahaya. Gejala klinis yang menonjol disebabkan iritasi di sekitar anus, perineum dan vagina karena cacing betina yang mau bertelur tadi sering bermigrasi ke sini. Penderita juga sering menggaruk daerah anusnya, dan biasanya pada malam hari sehingga terganggu tidurnya dan menjadi lemah. Beberapa gejala lain yang ditemukan penyelidik yaitu kurang nafsu makan, berat badan turun, aktivitas meninggi, mengompol, cepat marah, gigi menggeretak, dan insomnia.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Dapat sembuh sendiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih lekat diingatan saya waktu dosen parasitologi saya bilang “cacingan itu tidak perlu diobati, yang penting kita putus mata rantainya dia akan sembuh sendiri”. Ya, infeksi cacing kremi dapat sembuh sendiri (self limited). Bila tak ada pengobatanpun infeksi dapat berakhir. Asalkan kita melakukan pencegahan dan peningkatan kebersihan. Misalnya kuku selalu dipotong pendek, tangan dicuci bersih sebelum makan. Anak yang cacingan sebaiknya memakai celana panjang ketika tidur, pakaian dan sprei dicuci bersih dan diganti secara teratur. Makanan dihindarkan dari debu dan tangan yang kotor.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Mitos Kelapa dan Cacing Kremi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena bentuknya yang mirip, tersebarlah sebuah mitos aneh (dan bodoh), “kalau makan kelapa parut nanti bisa cacingan”. Padahal teori generation spontanea sudah lama tumbang. Tidak mungkin dari daging bisa lahir belatung, dari tumpukan padi muncul tikus, dan begitu pula dari parutan kelapa jadi cacing kremi. Kecuali kalau di parutan kelapanya memang ada telur kreminya. Sungguh saya tidak berani membayangkan kalau mitos ini benar, bagaimana dengan makan pare belut atau terong ungu? Maka, malam-malam atau ritual buang air besar pasti menjadi ritual paling menyiksa dan menakutkan dalam hidup. Bukan cacingan lagi kalau begitu, uleran, atau nagaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2378080211561637179-3366558511879099615?l=pemi-ludi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pemi-ludi.blogspot.com/feeds/3366558511879099615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2378080211561637179&amp;postID=3366558511879099615' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2378080211561637179/posts/default/3366558511879099615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2378080211561637179/posts/default/3366558511879099615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pemi-ludi.blogspot.com/2008/06/cacingan.html' title='Cacingan'/><author><name>pemikir_ulung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157734879805724200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2378080211561637179.post-1586101249184291114</id><published>2008-06-13T05:16:00.000-07:00</published><updated>2008-06-13T05:18:44.072-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='patologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesehatan'/><title type='text'>Kanker, Sudahkah Anda Tahu?</title><content type='html'>Beberapa hari yang lalu saya mengobrol dengan seorang guru. Kedua orang tua guru tersebut meninggal karena kanker kolon (usus besar), melihat latar belakang pendidikan saya dari kesehatan, praktis topik pembicaraan kami pagi itu tentang kanker. Tentang gejala, faktor risiko dan lain-lain. Beberapa bulan lalu juga ada seorang teman yang bertanya tentang kanker pada saya. Angka kejadian kanker di Indonesia cukup besar dan akan terus cukup besar dengan pola hidup dan lingkungan yang seperti ini, tapi sepertinya tidak cukup banyak yang tahu tentang kanker. Hal itulah yang memicu saya untuk meberi sedikit penjelasan tentang kanker di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum masuk ke kanker, izinkan saya mulai dengan neoplasma (bukan apa-apa, saya bingung kalau ujug-ujug langsung ke kanker hehe)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa itu neoplasma?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara harfiah neoplasma berarti pertumbuhan baru. Menurut Sir Rupert Wilis, seorang onkolog dari Inggris, neoplasma ialah massa jaringan yang abnormal, tumbuh berlebihan, tidak terkoordinasi dengan jaringan normal dan tumbuh terus menerus meskipun rangsang yang menimbulkan/memulainya telah hilang. Jaringan yang abnormal ini tidak mempunyai tujuan, merugikan penderitanya dan tumbuh otonom.&lt;br /&gt;Jadi kalau sel normal membelah secara terkendali dan seimbang dan akan berhenti ketika kebutuhan telah terpenuhi maka tidak demikian dengan neoplasma. Pembelahan neoplastik (bukan pembelahan normal) menimbulkan massa, menimbulkan pembengkakan/benjolan pada jaringan tubuh dan membentuk tumor.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nah ketemu tumor, apaan tuh?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya istilah tumor mula-mula digunakan untuk pembengkakan akibat radang oleh sembab jaringan atau perdarahan. Tapi istilah untuk tumor yang neoplastik telah ditinggalkan. Jadi tumor berarti neoplasma yang menurut sifat bilogiknya dibedakan atas tumor jinak dan tumor ganas. Semua tumor ganas disebut kanker (cancer).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ok, sudah jelas beda tumor dan kanker?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jadi secara sederhana kanker adalah tumor yang ganas, yang terdiri dari jaringan yang sel-selnya aktif membelah bersifat menyaingi jaringan normal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Atas dasar apa tumor dibedakan ada yang jinak dan ada yang ganas?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Didasarkan pada sifat biologiknya dibedakan atas tumor jinak (benigna), tumor ganas (maligna) dan terletak antara jinak dan ganas (intermediate)&lt;br /&gt;Tumor jinak tumbuhnya lambat, tidak tumbuh infiltratif, tidak merusak jaringan sekitarnya dan tidak menimbulkan anak sebar pada tempat yang jauh. Karena tumbuh menekan dan perlahan biasanya dibatasi jaringan ikat disebut kapsul atau simpai, sehingga tumor jinak biasanya berbatas tegas. &lt;br /&gt;Tumor ganas umumnya tumbuh cepat, infiltratif dan merusak jaringan sekitarnya. Dapat menyebar ke seluruh tubuh dan sering menimbulkan kematian.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Menyebar ke seluruh tubuh? Kok biiisaaa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Invasi sel kanker memungkinkan sel kanker menembus pembuluh darah, pembuluh limfe dan rongga tubuh sehingga dapat terjadi penyebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kenapa ada kanker stadium I, II, dan seterusnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keganasan sebuah kanker ditentukan derajat atau tingkatannya(grading). Pada umumnya dibagi atas 4 tingkat derajat keganasan.berdasarkan derajat diferensiasi suatu tumor dan jumlah mitosis. &lt;br /&gt;Penentuan stadium (staging) suatu tumor ganas berdasarkan ukuran tumor primer, ada tidaknya penyebaran ke kelenjar getah bening dan ada atau tidak penyebaran jauh (metastasis).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apa yang menyebabkan kanker?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Segala sesuatu yang dapat menyebabkan kanker disebut karsinogen. Berdasarkan penelitian karsinogen dibagi menjadi 4 golongan: bahan kimia, virus, radiasi, dan agen biologic. Contoh karsinogen antara lain: HPA yang terdapat di asap rokok dan tembakau, zat pewarna amin, bahan aditif pada makanan, radiasi UV, beberapa jenis hormone dan parasit.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan faktor risiko?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada faktor-faktor tertentu yang meningkatkan risiko seseorang terkena kanker misalnya jenis kelamin, ada kanker tertentu yang spesifik menyerang jenis kelamin tertentu pula atau lebih tinggi risikonya, umur, ras, lingkungan (jenis pekerjaan, kebiasaan sosial), geografik, herediter (risiko lebih tinggi jika memiliki riwayat keluarga dengan kanker) dan penyakit pre-neoplastik.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Apa pengaruhnya pada penderita?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Baik tumor ganas maupun jinak dapat menimbulkan masalah bagi penderita. Biasanya karena tumor yang tumbuh menimbulkan tekanan pada alat penting disekitarnya maka bisa menyebabkan kerusakan pada alat tersebut atau sumbatan. Kematian jaringan bisa menimbulkan luka, perdarahan, infeksi. Invasi pada saraf dapat menimbulkan rasa sakit hebat. Penekanan pada pembuluh darah menimbulkan bendungan dan edema. &lt;br /&gt;Pada umumnya penderita kanker menjadi kurus, badan lemah, anoreksia, dan anemia. Dan masih banyak masalah lain yang disebabkan oleh hormone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hal-hal apa saja yang bisa menambah kecurigaaan akan kanker?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Badan lemah, anoreksia, berat badan turun. Untuk menegakkan diagnosa lihat riwayat penyakit, riwayat keluarga, apakah ada yang pernah menderita kanker, riwayat social misalnya kebiasaan merokok, riwayat pekerjaan misalnya nelayan yang banyak terpapar sinar matahari, pekerja tambang yang banyak terpapar bahan kimia tertentu, jenis makanan dan asal geografik misalnya pengasapan ikan, daerah kejadian tinggi hepatitis B, riwayat seksual dan melahirkan anak berkaitan dengan tidak menikah dan melahirkan anak cenderung menderita kanker payudara, sedangkan wanita yang memulai kegiatan seksual pada usia muda dengan banyak pasangan seksual yang berbeda cenderung menderita kanker leher rahim.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Terus, apa yang harus dilakukan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menghindarkan diri dari pengaruh faktor penyebab kanker merupakan usaha pencegahan utama penyakit kanker. Jadi mulailah bergaya hidup sehat, makan makanan sehat tidak mengandung zat aditif, hindari merokok, jangan terlalu banyak kena paparan sinar UV (bisa item kaya gw nanti), dan lakukan general check up untuk deteksi dini penyakit (penting untuk keberhasilan pengobatan), untuk wanita lakukan SADARI (periksa payudara sendiri) secara berkala. Dan..jangan lupa berdoa, agar dihindarkan dari penyakit kanker. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2378080211561637179-1586101249184291114?l=pemi-ludi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pemi-ludi.blogspot.com/feeds/1586101249184291114/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2378080211561637179&amp;postID=1586101249184291114' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2378080211561637179/posts/default/1586101249184291114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2378080211561637179/posts/default/1586101249184291114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pemi-ludi.blogspot.com/2008/06/kanker-sudahkah-anda-tahu.html' title='Kanker, Sudahkah Anda Tahu?'/><author><name>pemikir_ulung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157734879805724200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2378080211561637179.post-4844650394125691201</id><published>2008-05-11T07:44:00.000-07:00</published><updated>2008-05-11T07:48:48.139-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keperawatan'/><title type='text'>Aksi Nasional 12 Mei 2008</title><content type='html'>Oleh: Yudi Ariesta Candra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pentingnya Undang-Undang keperawatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keperawatan merupakan salah satu profesi dalam dunia kesehatan. Sebagai profesi, tentunya pelayanan yang diberikan harus profesional, sehingga para perawat/ ners harus memilki kompetensi dan memenuhi standar praktik keperawatan, serta memperhatikan kode etik dan moral profesi agar masyarakat menerima pelayanan dan asuhan keperawatan yang bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini 40% - 75% pelayanan di rumah sakit merupakan pelayanan keperawatan (Swansburg, 1999). Hal ini dikarenakan telah terjadi pergeseran paradigma dalam pemberian pelayanan kesehatan dari model medikal yang menitikberatkan pelayanan pada diagnosis penyakit dan pengobatan ke paradigma sehat yang lebih holistik yang melihat penyakit dan gejala sebagai informasi, bukan sebagai fokus pelayanan (Cohen, 1996). Berdasarkan hasil penelitian Direktorat Keperawatan dan PPNI mengenai kegiatan perawat di Puskesmas, ternyata lebih dari 75% dari seluruh kegiatan pelayanan adalah kegiatan pelayanan keperawatan (Depkes, 2005). Dari sini kita dapat menyadari bahwa perawat berada pada posisi kunci dalam pemberian pelayanan kesehatan kepada masayarakat, sehingga diperlukan suatu regulasi yang jelas dalam mengatur pemberian asuhan keperawatan dan perlindungan hukum pun mutlak didapatkan oleh perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bila kita lihat realita yang ada, dunia keperawatan di Indonesia masih memprihatinkan. Fenomena “gray area” pada berbagai jenis dan jenjang keperawatan yang ada maupun dengan profesi kesehatan lainnya masih sulit dihindari.  Berdasarkan hasil kajian (Depkes &amp;amp; UI, 2005 ) menunjukkan bahwa terdapat perawat yang menetapkan diagnosis penyakit (92,6%), membuat resep obat (93,1%), melakukan tindakan pengobatan di dalam maupun di luar gedung Puskesmas (97,1%), melakukan pemeriksaan kehamilan (70,1%), melakukan pertolongan persalinan (57,7%), melaksanakan tugas petugas kebersihan (78,8%), dan melakukan tugas admisnistrasi seperti bendahara, dll (63,6%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada keadaan darurat, “gray area” sering sulit dihindari. Dalam keadaan ini, perawat yang tugasnya berada di samping klien selama 24 jam sering mengalami kedaruratan klien sedangkan tidak ada dokter yang bertugas. Hal ini membuat perawat terpaksa melakukan tindakan medis yang bukan merupakan wewenangnya demi keselamatan klien. Tindakan yang dilakukan tanpa ada delegasi dan petunjuk dari dokter, terutama di Puskesmas yang hanya memiliki satu dokter yang berfungsi sebagai pengelola Puskesmas, sering menimbulkan situasi yang mengharuskan perawat melakukan tindakan pengobatan. Fenomena ini tentunya sudah sering kita jumpai di berbagai Puskesmas terutama di daerah-daerah terpencil. Dengan pengalihan fungsi ini, maka dapat dipastikan fungsi perawat akan terbengkalai, dan tentu saja hal ini tidak mendapatkan perlindungan hukum karena tidak dapat dipertanggungjawabkan secara professional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--more-&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian fenomena melemahnya kepercayaan masyarakat dan maraknya tuntutan hukum terhadap praktik tenaga kesehatan termasuk keperawatan, sering diidentikkan dengan kegagalan upaya pelayanan kesehatan. Padahal perawat hanya melakukan daya upaya sesuai disiplin ilmu keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa kenyataan di atas, jelas bahwa diperlukan suatu ketetapan hukum yang mengatur  praktik keperawatan dalam rangka menjamin perlindungan terhadap masyarakat penerima pelayanan asuhan keperawatan serta perawat sebagai pemberi pelayanan asuhan keperawatan. Hanya perawat yang memenuhi persyaratan yang mendapatkan izin melakukan praktik keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu diperlukan Undang-undang Praktik keperawatan yang mengatur keberfungsian Konsil Keperawatan sebagai badan regulator untuk melindungi masyarakat. Fungsi Konsil keperawatan, sebagai Badan Independen yang bertanggungjawab langsung kepada Presiden, yakni mengatur sistem registrasi, lisensi, dan sertifikasi bagi praktik perawat (PPNI, 2006).  Dengan adanya Undang-undang Praktik  Keperawatan maka akan terdapat jaminan terhadap mutu dan standar praktik, di samping sebagai perlindungan hukum bagi pemberi dan penerima asuhan keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Seruan Aksi Nasional Perawat sukseskan UU Keperawatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saat ini desakan dari seluruh elemen keperawatan akan perlunya UU Keperawatan semakin tinggi. Uraian di atas cukup menggambarkan betapa pentingnya UU Keperawatan tidak hanya bagi perawat sendiri, melainkan juga bagi masyarakat selaku penerima asuhan keperawatan.  Sejak dilaksanakannya Lokakarya Nasional Keperawatan tahun 1983 yang menetapkan bahwa keperawatan merupakan profesi dan pendidikan keperawatan berada pada pendidikan tinggi, berbagai cara telah dilakukan dalam memajukan profesi keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1989, PPNI sebagai organisasi profesi perawat di Indonesia mulai memperjuangkan terbetuknya UU Keperawatan. Berbagai peristiwa penting terjadi dalam usaha mensukseskan UU Keperawatan ini. Pada tahun 1992 disahkanlah UU Kesehatan yang di dalamnya mengakui bahwa keperawatan merupakan profesi ( UU Kesehatan No.23, 1992). Peristiwa ini penting artinya, karena sebelumnya pengakuan bahwa keperawatan merupakan profesi hanya tertuang dalam Peraturan Pemerintah ( PP No.32, 1966). Dan usulan UU Keperawatan baru disahkan menjadi Rancangan Undang-uandang ( RUU) Keperawatan pada tahun 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kita ketahui bahwa untuk membuat suatu undang-undang dapat ditempuh dengan dua cara yakni melalui Pemerintah (UUD 1945 Pasal 5 ayat 1) dan melalui DPR (Badan Legislatif Negara). Selama hampir 20 tahun ini PPNI memperjuangkan UU Keperawatan melalui Pemerintah, dalam hal ini Depkes RI. Dana yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Tapi kenyataannya hingga saat ini RUU keperawatan berada pada urutan 250-an pada Program Legislasi Nasional (Prolegnas), yang pada tahun 2007 berada pada urutan 160 ( PPNI, 2008).&lt;br /&gt;Berdasarkan hal tersebut, akhirnya PPNI merubah haluan dalam memperjuangkan UU Keperawatan, yakni dengan melalui DPR RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya, pengetahuan masyarakat akan pentingnya UU Keperawatan mutlak diperlukan. Hal ini terkait status DPR yang merupakan lembaga perwakilan rakyat, sehingga pembahasan-pembahasan yang dilakukan  merupakan masalah yang sedang terjadi di masyarakat. Oleh karena itu, pencerdasan kepada masyarakat akan pentingnya UU Keperawatn harus dilakukan agar masyarakat merasa butuh dan usulan UU Keperawatan pun masuk dalam agenda DPR RI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan itu, pada Rakernas II PPNI, 17 – 19 Mei 2008 di Semarang, disepakati pelaksanaan Gerakan Nasional Perawat Sukseskan Undang-undang Keperawatan dengan turun ke jalan melakukan demonstrasi ke DPR RI dan melakukan aksi simpatik, dengan tidak meninggalkan pelayanan dengan tujuan pem-blow up-an isu pentingnya UU Keperawatan ke masyarakat yang pada akhirnya memberi desakan kepada DPR RI untuk segera mengesahkan UU Keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya Keikutsertaan Mahasiswa&lt;br /&gt;Perlu kita cermati bahwa aksi nasional yang akan dilakukan bukan sekedar aksi yang mengatasnamakan perawat seja, tetapi juga nama baik profesi keperawatan keseluruhan. Keberhasilan pelaksanaan aksi tidak hanya menjadi presiden yang baik untuk profesi ini tetapi juga memperlancar terbentuknya UU Keperawatan, demikian pula sebaliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari pengalaman tahun lalu, saat memperingati Hari Keperawatan Sedunia di mana mahasiswa berjalan sendiri dengan aksi demonstrasinya di HI dan PPNI sibuk dengan konferensi pers-nya padahal kenyataannya dua kegiatan tersebut memiliki tujuan yang sama yakni Pencerdasan public tentan UU Keperawatan, yang berujung pada kurang ter-blow up-nya isu ke masyarakat, dapat menjadi pelajaran untuk kita semua bahwa pentingnya kesatuan gerak seluruh elemen keperawatan dalam mensukseskan UU Keperawatan. Pelaksanaan Aksi Nasional 12 Mei 2008 ini merupakan momentum yang tepat untuk mulai mewujudkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa keperawatan dengan kuantitas massa dan intelektualitasnya yang besar dapat menjadi salah satu kekuatan utama dalam pelaksanaan aksi nasional ini. Dan mengingat bahwa aksi ini merupakan awal perjuangan baru dalam mensukseskan UU Keperawatan, peranan mahasiswa sebagai social control mutlak diperlukan terutama setelah pelaksanaan aksi dalam menjaga kontinuitas usaha PPNI dalam memperjuangkan terciptanya UU Keperawatan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2378080211561637179-4844650394125691201?l=pemi-ludi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pemi-ludi.blogspot.com/feeds/4844650394125691201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2378080211561637179&amp;postID=4844650394125691201' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2378080211561637179/posts/default/4844650394125691201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2378080211561637179/posts/default/4844650394125691201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pemi-ludi.blogspot.com/2008/05/aksi-nasional-12-mei-2008.html' title='Aksi Nasional 12 Mei 2008'/><author><name>pemikir_ulung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157734879805724200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2378080211561637179.post-2622249905979284199</id><published>2008-03-13T04:19:00.000-07:00</published><updated>2008-03-13T04:20:53.908-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paradigma'/><title type='text'>Sebodoh Itukah Perawat Di Mata Kalian?</title><content type='html'>Suatu hari murid privatku tiba-tiba bertanya "kak, emangnya kakak kuliah apa sih?". Kemudian aku jawab "ilmu keperawatan", dan diapun menanggapi jawabanku dengan "kok kakak pinter sih?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosenku dari kelompok keilmuan komunitas juga pernah cerita, di sebuah komunitas yang sedang dia garap dia dipanggil "bu dokter...bu dokter", dosenku ini mengklarifikasi, "saya bukan dokter bu, saya perawat", dan mereka menjawab "ah perawat kok pinter?" dan kemudian melanjutkan dengan memanggil bu dokter-bu dokter lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah evaluasi besar buat kami para perawat (dan calon perawat) kenapa paradigma masyarakat demikian. Mungkin hal ini pula yang memicu aku untuk membuat judul "Jadi Perawat Kudu Pinter" di blog ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2378080211561637179-2622249905979284199?l=pemi-ludi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pemi-ludi.blogspot.com/feeds/2622249905979284199/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2378080211561637179&amp;postID=2622249905979284199' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2378080211561637179/posts/default/2622249905979284199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2378080211561637179/posts/default/2622249905979284199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pemi-ludi.blogspot.com/2008/03/sebodoh-itukah-perawat-di-mata-kalian.html' title='Sebodoh Itukah Perawat Di Mata Kalian?'/><author><name>pemikir_ulung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157734879805724200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2378080211561637179.post-1216489549375313283</id><published>2008-03-11T04:07:00.000-07:00</published><updated>2008-03-11T04:08:31.255-07:00</updated><title type='text'>PERAN PERAWAT DALAM MENANGANI MASALAH PSIKOSOSIAL PENDERITA HIV/AIDS</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sejak awal kemunculannya, penyakit AIDS memang sangat fenomenal. Kasus pertama AIDS dilaporkan pada tahun 1981 di California, sedangkan penyebabnya baru ditemukan pada alkhir 1984 oleh Robert Gallo dan Luc Montagner. (Sudoyo, 2006) Sejak pertama kali penyakit ini ditemukan, manifestasi klinis dari penyakit ini begitu meresahkan. Kenyataan bahwa penyakit ini dapat dengan mudah menulari orang lain, membuat AIDS pun menjadi salah satu momok menakutkan, bahkan bagi tenaga kesehatan yang termasuk salah satu kelompok yang berisiko cukup tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="ft0"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Reaksi spontan masyarakat (termasuk kalangan kedokterannya sendiri) pada masa pertama kali menghadapi penyakit AIDS ini adalah menjauhkan diri dari penderita, berusaha tidak menyentuh penderita, menggunakan obat-obat pensuci hama dan bila perlu membakar kasur atau pakaian yang bekas dipakai penderita. Reaksi awal yang bernada panik inilah yang terlanjur tersebar keseluruh dunia melalui media massa Barat, sehingga sekarang ini di banyak negara di dunia masih berlaku kepercayaan yang salah tentang AIDS ini, sementara di negara-negara Barat sendiri sikap masyarakat sudah jauh lebih tenang dan rasional sehubungan dengan ditemukannya berbagai sifat dari penyakit ini. (Sarwono)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tingkat pertumbuhan penderita AIDS di Indonesia cukup tinggi. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Departemen Kesehatan (DEPKES) memprediksi pada tahun 2010 HIV/AIDS di Indonesia akan menjadi pandemi. Peningkatan infeksi HIV pada penyalahguna narkoba terjadi secara signifikan. Pada tahun 1999, peningkatannya mencapai 15%, tahun 2000 membengkak menjadi 40%, dan dua tahun kemudian, tepatnya 2002, telah mengembung menjadi 47,9%. Sementara itu, infeksi HIV pada donor darah secara nasional memperlihatkan besaranya kurang dari dua setiap per 10.000 kantong darah di awal 2001. Pada tiga tahun terakhir antara 1997-2000 infeksi HIV pada donor darah di Indonesia meningkat hingga sepuluh kali lipat. &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada awal mula penyakit ini berkembang di Indonesia, kelompok pengidap penyakit ini adalah orang-orang yang memiliki perilaku berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seks. Kebanyakan penderita AIDS adalah mereka yang melakukan perilaku seks tidak sehat, yang dalam hal ini melanggar norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Kemudian, AIDS juga banyak diderita oleh pemakai narkoba yang menggunakan jarum suntik karena adanya kebiasaan menggunakan jarum suntik secara bergantian. Kenyataan ini menimbulkan stigma pada masyarakat &lt;span style="color: black;"&gt;yang menyebutkan bahwa HIV/AIDS muncul sebagai akibat penyimpangan perilaku seks dari nilai, norma, dan agama, penyakit pergaulan bebas, atau penyakit kaum perempuan nakal. Bahkan lebih parah lagi adanya stigma bahwa HIV/AIDS merupakan kutukan Tuhan karena perbuatan-perbuatan menyimpang itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Kenyataan bahwa manifestasi klinis penyakit ini begitu membahayakan kehidupan, belum ditemukan obatnya, dan penyakit ini dapat menular ke orang lain memperparah stigma negatif yang ada pada masyarakat. Banyak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masyarakat yang menganggap HIV/AIDS sangat menular dan bahkan bersentuhan dengan penderita dapat menularkan HIV dan HIV/AIDS selalu berkaitan dengan perilaku yang tidak benar sehingga penderita AIDS dikucilkan dan didiskriminasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Adanya stigma dalam masyarakat ini menimbulkan masalah psikosial yang rumit bagi penderita AIDS.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pengucilan penderita dan diskriminasi tidak jarang membuat penderita AIDS tidak mendapatkan hak-hak asasinya. Begitu luasnya masalah sosial yang berkaitan dengan stigma ini, karena diskriminasi terjadi di berbagai pelayanan masyarakat bahkan tidak jarang dalam pelayanan kesehatan sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Stigma-stigma negatif pada masyarakat ini membuat penderita atau keluarga menjadi malu dan takut. Keluarga jadi malu untuk memeriksakan anggota keluarga yang menderita AIDS diri ke rumah sakit atau pusat-pusat pelayanan kesehatan, begitu pula dengan penderitanya sendiri, jadi malu untuk memeriksakan dirinya sendiri. Imbasnya, mereka yang berpotensi tertular virus ini pun menjadi enggan memeriksakan diri pula, merasa lebih baik tidak tahu sama sekali daripada tahu dan kemudian dipandang negatif dan dikucilkan oleh masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Beban psikososial yang dialami seorang penderita AIDS adakalanya lebih berat daripada beban fisiknya. Beban yang diderita pasien AIDS baik karena gejala penyakit yang bersifat organik maupun beban psikososial dapat menimbulkan rasa cemas, depresi, kurang percaya diri, putus asa, bahakn keinginan untuk bunuh diri. Kalau sudah begini, upaya mengantisipasi perkembangan HIV/AIDS mengalami kendala yang cukup berat dan tentunya menghambat upaya-upaya pencegahan dan perawatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Keterlibatan berbagai pihak diharapkan mampu mengatasi permasalahan psikososial. Pemahaman yang benar mengenai AIDS perlu disebarluaskan. Kenyataan bahwa dalam era obat antiretroviral, AIDS sudah menjadi penyakit kronik yang dapat dikendalikan juga perlu dimasyarakatkan karena konsep tersebut dapat memberi harapan pada masyarakat dan penderita HIV/AIDS bahwa penderita AIDS dapat menikmati kualitas hidup yang lebih baik dan berfungsi di masyarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan konseling dan pendampingan (tidak hanya psikoterapi tetapi juga psikoreligi), edukasi yang benar tentang HIV/AIDS baik pada penderita, keluarga dan masyarakat. Sehingga penderita, keluarga maupun masyarakat dapat menerima kondisinya dengan sikap yang benar dan memberikan dukungan kepada penderita. Adanya dukungan dari berbagai pihak dapat menghilangkan berbagai stresor dan dapat membantu penderita meningkatkan kualitas hidupnya sehingga dapat terhindar dari stress, depresi, kecemasan serta perasaan dikucilkan. (Susiloningsih)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Peran seorang perawat dalam mengurangi beban psikis seorang penderita AIDS sangatlah besar. Lakukan pendampingan dan pertahankan hubungan yang sering dengan pasien sehinggan pasien tidak merasa sendiri dan ditelantarkan. Tunjukkan rasa menghargai dan menerima orang tersebut. Hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri klien. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Perawat juga dapat melakukan tindakan kolaborasi dengan memberi rujukan untuk konseling psikiatri. Konseling yang dapat diberikan adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;konseling pra-nikah, konseling pre dan pascates HIV, konseling KB dan perubahan prilaku. Konseling sebelum tes HIV penting untuk mengurangi beban psikis. Pada konseling dibahas mengenai risiko penularan HIV, cara tes, interpretasi tes, perjalanan penyakit HIV serta dukungan yang dapat diperoleh pasien. Konsekuensi dari hasil tes postif maupun negatif disampaikan dalam sesi konseling. Dengan demikian orang yang akan menjalani testing telah dipersiapkan untuk menerima hasil apakah hasil tersebut positif atau negatif. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mengingat beban psikososial yang dirasakan penderita AIDS akibat stigma negatif dan diskriminasi masyarakat adakalanya sangat berat, perawat perlu mengidentifikasi adakah sistem pendukung yang tersedia bagi pasien. Perawat juga perlu mendorong kunjungan terbuka (jika memungkinkan), hubungan telepon dan aktivitas sosial dalam tingkat yang memungkinkan bagi pasien. Partisipasi orang lain, batuan dari orang terdekat dapat mengurangi perasaan kesepian dan ditolak yang dirasakan oleh pasien. Perawat juga perlu melakukan pendampingan pada keluarga serta memberikan pendidikan kesehatan dan pemahaman yang benar mengenai AIDS, sehingga keluarga dapat berespons dan memberi dukungan bagi penderita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aspek spiritual juga merupakan salah satu aspek yang tidak boleh dilupakan perawat. &lt;span style="color: black;"&gt;Bagi penderita yang terinfeksi akibat penyalahgunaan narkoba dan seksual bebas harus disadarkan agar segera bertaubat dan tidak menyebarkannya kepada orang lain dengan menjaga perilakunya serta meningkatkan kualitas hidupnya. Bagi seluruh penderita AIDS didorong untuk mendekatkan diri pada Tuhan, jangan berputus asa atau bahkan berkeinginan untuk bunuh diri dan beri penguatan bahwa mereka masih dapat hidup dan berguna bagi sesama antara lain dengan membantu upaya pencegahan penularan HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Referensi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;”2010, AIDS Jadi Epidemi di Indonesia” diambil pada 20 Februari 2008 dari &lt;a href="http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/map105dua.html"&gt;http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/map105dua.html&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Doenges, M. E. Marilyn Frances Moorhouse &amp;amp; Alice C. Geissler. (1999). &lt;i&gt;Rencana Asuhan Keperawatan. Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien&lt;/i&gt;. Jakarta: EGC&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt; line-height: 150%;"&gt;Sarwono, Sarlito Wirawan. &lt;span style="" lang="SV"&gt;“Aspek Psikososial AIDS” diambil pada 10 Maret 2008 dari &lt;a href="http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/12_AspekPsikososialAids.pdf/12_AspekPsikososialAids.html"&gt;http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/12_AspekPsikososialAids.pdf/12_AspekPsikososialAids.html&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sudoyo, Aru W.(2006) &lt;i&gt;Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam&lt;/i&gt;. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Susiloningsih, Agus. ”AIDS: Aspek Klinis, Permasalahan dan Harapan” diambil pada 20 Februari 2008 dari &lt;a href="http://fkuii.org/tiki-index.php?page=halaman2"&gt;http://fkuii.org/tiki-index.php?page=halaman2&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2378080211561637179-1216489549375313283?l=pemi-ludi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pemi-ludi.blogspot.com/feeds/1216489549375313283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2378080211561637179&amp;postID=1216489549375313283' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2378080211561637179/posts/default/1216489549375313283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2378080211561637179/posts/default/1216489549375313283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pemi-ludi.blogspot.com/2008/03/peran-perawat-dalam-menangani-masalah.html' title='PERAN PERAWAT DALAM MENANGANI MASALAH PSIKOSOSIAL PENDERITA HIV/AIDS'/><author><name>pemikir_ulung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157734879805724200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2378080211561637179.post-8239428047599559407</id><published>2007-12-17T02:43:00.000-08:00</published><updated>2007-12-17T02:44:12.895-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keperawatan Jiwa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kuliah'/><title type='text'>Pertama ke Rumah Sakit Jiwa</title><content type='html'>Hari ini kunjungan pertama anak reguler 2005 ke Rumah Sakit Jiwa. Disuruh kumpul jam 8 pagi di RSMM Bogor, temen-temenku pada panic dan berangkat pagi-pagi. Bahkan katanya ada yang sampe disana jam 6 pagi! hue..he..jam segitu aku masih dirumah, baru mau mandi. Aku berangkat sendiri, ngga bareng rombongan, sampe di pocin jam 7, satu setengah jam setelah rombongan teman-temanku berangkat. Tapi Alhamdulillah aku sampe di Bogor tepat waktu, ngga telat lho..Allah memang baiiiik sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua jalan bergerombol untuk mencari ruangan masing-masing. Kelompok yang sudah ketemu ruangannya langsung mulai masuk dan mulai interaksi dengan klien. Di perjalanan, tiba-tiba ada satu orang pasien teriak-teriak “monyet..monyet..!” dari dalem ruangannya, cukup membuat kita yang baru pertama ke rumah sakit jiwa ini ciut nyalinya. Aku yang tadinya masih nyantai jadi ansietas juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompokku dapet ruangan tempat pasien laki-laki. Disana kita dikenalin sama pembimbingnya dengan pasien-pasien, kita boleh milih pasien yang mau kita rawat. Setelah dapet 1 pasien, hariku yang sebenarnya di RS ini dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, perkenalan dan cari tempat buat ngobrol. Alhamdulillah pasienku ini cukup kooperatif. Bahkan aku yang semula mendiagnosa dia waham, baru sadar setelah dia sendiri yang bilang “suster katanya saya ini halusinansi ya..” Wah..pucuk dicinta ulam tiba, dapetlah aku masalah utama klien-ku ini. Ternyata dia menderita halusinasi yang cukup parah, bahkan kadang halusinasinya bisa menguasainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berinteraksi dengan pasien (selanjutnya kusebut klien ya..) ku ini membuatku merasa kasihan sama dia. Empati-ku muncul (jieeh..), dia memperlihatkan bekas luka di tangan dan kepalanya, katanya dipukulin sama orang tuanya dan ada juga yang dipukul polisi. Klienku bilang dia punya orang tua 4 “katanya kalo punya orangtua banyak enak ya suster, tapi saya kok malah begini”. Menurutku, sebenernya klien-ku ini cukup beruntung karena dia dikirim orangtuanya kesini, bukan dikurung dirumah, dibuang di jalan, atau bahkan dipasung. Dengan ditempatkan di RS setidaknya dia bisa mendapatkan asuhan yang sesuai dengan kebutuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sempat dibilang penjelmaan dari Ranti si iblis dari neraka, aku cukup puas dengan kerjasama klien-ku ini. Dia menceritakan masalahnya dengan jelas, bicaranya nyambung, ngga kurang ajar (misalnya minta cium, colek-colek, dsb), dll. (temenku ada yang dicium sama kliennya loh..cewek sih..) dia itu sadar kalo dirinya sakit jiwa, dia bilang “yah maklum lah namanya juga ngobrol sama orang gila, ngga kaya suster yang normal gini..” he..he..dibilang normal sama orang gangguan jiwa..he..he..lumayan lah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata merawat klien sakit jiwa tidak semenakutkan yang kita kira. Asal komunikasi kita tepat sehingga bisa membantu menyelesaikan masalahnya bukan malah menambah diagnosa baru. Mungkin suatu saat aku akan coba untuk ngobrol dengan orang gangguan jiwa di jalan yang kulalui..semoga diri ini bisa membantu menyelesaikan masalah mereka..semoga..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat temen-temen 2005 semangat ya ngerjain laporannya, besok kita kunjungan lagi ke panjalu dan kampung naga, SEMANGKA!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2378080211561637179-8239428047599559407?l=pemi-ludi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pemi-ludi.blogspot.com/feeds/8239428047599559407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2378080211561637179&amp;postID=8239428047599559407' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2378080211561637179/posts/default/8239428047599559407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2378080211561637179/posts/default/8239428047599559407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pemi-ludi.blogspot.com/2007/12/pertama-ke-rumah-sakit-jiwa.html' title='Pertama ke Rumah Sakit Jiwa'/><author><name>pemikir_ulung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157734879805724200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2378080211561637179.post-1793174473364922948</id><published>2007-12-06T18:03:00.000-08:00</published><updated>2007-12-06T03:06:51.194-08:00</updated><title type='text'>Profesi Keperawatan, Perjuangan Dua Dekade</title><content type='html'>Dunia profesi keperawatan terus bergerak. Hampir dua dekade profesi ini menyerukan perubahan paradigma. Perawat yang semula tugasnya hanyalah semata-mata menjalankan perintah dokter kini berupaya meningkatkan perannya sebagai mitra kerja dokter seperti yang sudah dilakukan di negara-negara maju. Tapi yang namanya perubahan bukanlah perkara mudah. Bagaimanakah kesiapan pihak lain menerima perubahan ini, atau bahkan bagaimana kesiapan perawat itu sendiri yang berperan sebagai pemeran utama dalam perubahan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah profesi yang masih berusaha menunjukkan jati diri, profesi keperawatan dihadapkan pada banyak tantangan. Tantangan ini bukan hanya dari eksternal tapi juga dari internal profesi ini sendiri. Pembenahan internal yang meliputi empat dimensi domain yaitu; Keperawatan, pelayanan keperawatan, asuhan keperawatan, dan praktik keperawatan. Belum lagi tantangan eksternal berupa tuntutan akan adanya registrasi, lisensi, sertifikasi, kompetensi dan perubahan pola penyakit, peningkatan kesadaran masyarakat akan hak dan kewajiban, perubahan sistem pendidikan nasional, serta perubahan-perubahan pada supra sistem dan pranata lain yang terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi keperawatan Indonesia memang masih jauh tertinggal dari negara-negara maju, bahkan dibandingkan negara-negara ASEAN sekalipun. Kurangnya penghargaan pemerintah terhadap perawat yang dibuktikan dengan pemberian gaji yang kecil padahal perawat memiliki pekerjaan dan tanggung jawab yang besar adalah salah satu contoh. Gaji kecil, yang bahkan tidak cukup untuk menutupi kebutuhan hidup, seringkali membawa dampak pada profesionalisme kinerja perawat itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan internal profesi keperawatan adalah meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tenaga keperawatan sejalan dengan telah disepakatinya keperawatan sebagai suatu profesi pada lokakarya nasional keperawatan tahun 1983 sehingga keperawatan dituntut untuk memberikan pelayanan yang bersifat profesional. Untuk menanamkan pondasi dalam-dalam sebagai salah satu profesi yang diakui masyarakat, perawat harus dapat menyuguhkan profesionalisme pelayanan keperawatan kepada masyarakat. Hal ini berbanding lurus dengan kualitas SDM tenaga keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas SDM tenaga keperawatan akan meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan formal perawat. Di indonesia, sebagian besar perawat memiliki pendidikan terakhir adalah SPK yang setara dengan SMA. Ironis jika dibandingkan dengan tingkat pendidikan perawat di negara maju yang minimal sarjana. Oleh karenanya, yang mendesak untuk dilakukan adalah meng-up grade latar pendidikan, juga untuk memperkecil perbedaan dengan mitra kerja perawat yaitu dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dianalisa lebih mendalam, ada empat tantangan utama yang sangat menentukan terjadinya perubahan dan perkembangan keperawatan di Indonesia, yang secara nyata dapat dirasakan khususnya dalam sistem pendidikan keperawatan, yaitu (1) terjadinya pergeseran pola masyarakat Indonesia; (2) Perkembangan IPTEK; (3) Globalisasi dalam pelayanan kesehatan; dan (4) Tuntutan tekanan profesi keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar dari usaha pemantapan kedudukan sebagai sebuah profesi, ada sebuah fenomena yang cukup mencengangkan. Saat ini jumlah perawat yang menganggur di Indonesia ternyata cukup besar. Hingga tahun 2005 mencapai 100 ribu orang. Ini disebabkan rendahnya pertumbuhan rumah sakit dan lemah berbahasa asing. Padahal setiap tahun, dari 770 sekolah perawat yang ada di Indonesia, lulusannya mencapai 25 ribu perawat. Ironisnya, data WHO 2005 menunjukkan bahwa dunia justru kekurangan 2 juta perawat, baik di AS, Eropa, Australia dan Timur Tengah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, Badan Pengembangan dan Pemberdayaan kesehatan SDM Kesehatan (PPSDM Kesehatan) melaporkan bahwa jumlah terbesar Tenaga Kesehatan Profesional Indonesia (TKPI) yang telah bekerja di luar negeri mulai 1989 sampai dengan 2003 adalah perawat (97.48% dari total sebanyak 2494 orang)4). Hal ini menunjukkan pada kita ada beberapa hal yang harus  ditanggulangi dalam profesi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi perawat di luar negeri tidaklah mudah, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Persyaratan-persyaratan tersebutpun bukan hal yang main-main, misalnya pengalaman kerja, kemampuan berbahasa asing atau telah mengantongi sertifikat lolos ujian NLEX (National Licence Examination). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keberhasilan perawat-perawat Indonesia tersebut berangkat ke luar negeri dan bekerja di sana, ini menunjukkan pada kita bahwa mereka adalah tenaga keperawatan yang mampu memenuhi syarat-syarat tersebut yang merupakan implikasi dari kualitas mereka. Secara tidak langsung menunjukkan bahwa tidak sedikit tenaga keperawatan Indonesia yang berkualitas baik dan diakui dunia internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi kita dapat merasa tenang dan bangga, tapi di sisi lain kita justru harus merasakan kekhawatiran yang sangat. Karena perginya tenaga perawat Indonesia yang berkualitas ke luar negeri selain dapat  berdampak positif juga dapat memberi dampak negatif. Dampak positifnya adalah sekembalinya mereka ke Indonesia, mereka dapat memberi wacana baru dan pencerahan bagi dunia keperawatan Indonesia lewat ilmu dan penglaman yang mereka dapat di luar.  Namun hal ini juga berdampak negatif yaitu akan menimbulkan kekhawatiran masyarakat Indonesia menerima pelayanan dari tenaga perawat yang tersisa di Indonesia, yang kualitasnya di bawah tenaga keperawatan yang bekerja di luar tersebut. Apalagi dengan fenomena kurang dihargainya perawat di Indonesia dan tingginya permintaan dari luar negeri akan memicu perawat-perawat berkualitas di Indonesia untuk mencari “penghidupan yang layak” di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan lain dari eksternal profesi keperawatan adalah kesiapan profesi lain menerima paradigma baru yang kita bawa. Perlu adanya kesediaan profesi kesehatan lain memberi kesempatan pada perawat untuk berkembang dan membuktikan diri. Tentu saja bukanlah proses yang mudah, karena tidak sedikit dokter yang memandang perawat, setinggi apapun pendidikannya tetaplah seorang pembantu dokter yang bertugas menjalankan perintah dokter, yang tidak punya inisiatif sampai perintah dokter diberikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya untuk menjawab tantangan-tantangan itu dibutuhkan komitmen dari semua pihak yang terkait dengan profesi ini, organisasi profesi, lembaga pendidikan keperawatan juga tidak kalah pentingnya peran serta pemerintah. Organisasi profesi dalam menentukan standarisasi kompetensi dan melakukan pembinaan, lembaga pendidikan dalam melahirkan perawat-perawat yang memiliki kualitas yang diharapkan  serta pemerintah sebagai fasilitator dan memiliki peran-peran strategis lainnya dalam mewujudkan perubahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;br /&gt;www.inna-ppni.or.id/index.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=78&lt;br /&gt;www.inna-ppni.or.id/index.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=107&lt;br /&gt;www.io.ppi-jepang.org/article.php?id=159&lt;br /&gt;www.kompas.com/kompas-cetak/0106/29/nasional/pera37.htm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(essay ini kutulis sekitar 1 tahun yang lalu, maaf kalau buat kutipannya kurang baik, sama sekali tidak bermaksud memplagiat tulisan orang lain)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2378080211561637179-1793174473364922948?l=pemi-ludi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pemi-ludi.blogspot.com/feeds/1793174473364922948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2378080211561637179&amp;postID=1793174473364922948' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2378080211561637179/posts/default/1793174473364922948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2378080211561637179/posts/default/1793174473364922948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pemi-ludi.blogspot.com/2007/12/profesi-keperawatan-perjuangan-dua.html' title='Profesi Keperawatan, Perjuangan Dua Dekade'/><author><name>pemikir_ulung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157734879805724200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2378080211561637179.post-377956397783810078</id><published>2007-12-06T17:51:00.000-08:00</published><updated>2007-12-06T20:36:09.819-08:00</updated><title type='text'>Langkah Pertama, Kata Orang paling Berat</title><content type='html'>Post pertama, Langkah pertama aku di blog ini. Sebelumnya udah punya blog sih &lt;a href="http://www.pemikirulung.multiply.com"&gt;disini &lt;/a&gt;dan &lt;a href="http://www.pemikirulung.blogspot.com"&gt;disana&lt;/a&gt;, tapi blog yang ini beda. Karena ini blogku yang khusus menulis tentang keperawatan. Bukan berarti aku uda jadi perawat yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;expert &lt;/span&gt;dan ngelotok tentang hal-hal yang berbau keperawatan, tapi setidaknya aku akan menulis hal-hal yang aku ketahui yang berhubungan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nursing&lt;/span&gt; disini. Semoga bisa membantu dan bermanfaat buat para pengunjung.&lt;br /&gt;Ok..jangan bosan berkunjung lagi..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2378080211561637179-377956397783810078?l=pemi-ludi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pemi-ludi.blogspot.com/feeds/377956397783810078/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2378080211561637179&amp;postID=377956397783810078' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2378080211561637179/posts/default/377956397783810078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2378080211561637179/posts/default/377956397783810078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pemi-ludi.blogspot.com/2006/12/langkah-pertama-kata-orang-paling-berat.html' title='Langkah Pertama, Kata Orang paling Berat'/><author><name>pemikir_ulung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09157734879805724200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
